Kisah Surat Thaha dan Umar Bin Khattab
yang Mengagumkan
Khalifah Umar memeluk Islam pada bulan Dzulhijjah Tahun ke-6
dari kenabian, yaitu tiga hari setelah Sayyidina Hamzah memeluk
Islam. Keislaman Umar juga tidak lepas dari doa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan Imam
At-Tirmidzi dari Ibnu Umar dan juga Hadis Ath-Thabrani dari Ibnu
Mas'ud dan Anas bahwa Nabi bersabda: "Ya Allah, kokohkanlah
Islam ini dengan salah seorang dari dua orang yang paling Engkau
cintai, Umar bin Khaththab atau Abu Jahal bin Hisyam."
Qadarullah,
Allah menakdirkan Umar mendapat cahaya Islam, bukan Abu Jahal.
Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal dengan watak keras dan
kepribadian temperamental, namun memiliki harga diri yang tinggi.
Beliau memiliki permusuhan kuat terhadap Islam. Banyak kaum muslimin
merasakan beragam penganiayaan yang dilakukannya.
Kisah Umar Masuk
Islam Dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah, suatu malam Umar datang ke
Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan
sholat Rasulullah SAW. Kala itu Rasulullah membaca Surat Al-Haqqah.
Umar kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya
sendiri. "Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang
dikatakan kaum Quraisy."
Kemudian beliau mendengar Rasulullah
membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al-Qur'an bukan syair).
Lantas Umar berkata, "Kalau begitu berarti dia itu dukun."
Kemudian beliau mendengar bacaan Rasulullah ayat 42, (Yang menyatakan
bahwa Al-Qur'an bukanlah perkataan dukun), akhirnya Umar berkata,
"Telah terbetik lslam di dalam hatiku." Akan tetapi karena
kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama
nenek moyang, Umar tetap saja memusuhi Islam.
Suatu hari, Umar
berniat membunuh Rasulullah SAW. Umar berjalan sambil menghunus
pedangnya. Dalam perjalanan, Umar bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah
An-Nahham Al-Adawi (dalam riwayat lain disebutkan, seseorang dari
suku Bani Zahrah atau seseorang dari suku Bani Makhzum). Laki-laki
itu berkata, "Hendak ke mana engkau wahai Umar?" Umar
menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad." Orang itu berkata
lagi, "Kalau Muhammad engkau bunuh, bagaimana engkau selamat
dari kejaran Bani Hasyim dan Bani Zahrah?" '
Umar menjawab:
"Menurutku, sekarang ini engkau sudah menjadi penganut
As-Shabiah (sebutan terhadap pengikut agama Islam) dan keluar dari
agamamu". Orang itu berkata kepadanya, "Maukah aku
tunjukkan padamu yang lebih mengagetkanmu lagi, wahai Umar?
Sesungguhnya saudara (perempuan) dan iparmu juga telah menjadi
penganut As-Shabiah dan meninggalkan agama mereka berdua."
Mendengar itu, Umar langsung bergegas mendatangi saudara perempuannya
yang saat itu sedang belajar Qur'an (Surat Thaha) kepada Khabab bin
Al-Arat. Umar mendapati Khabbab bin Al-Aratt membawa lembaran
Al-Qur'an bertuliskan "Thaha".
Melihat Umar datang, spontan
Khabbab menyelinap ke bagian belakang rumah, sedangkan saudara
perempuan Umar menutupi lembaran Al-Qur'an tersebut. "Apa
gerangan suara bisik-bisik yang aku dengar dari kalian?" kata
Umar.
Kemudian saudara perempuan Umar dan suaminya berkata, "Kami
tidak sedang membicarakan apa-apa, hanya sekadar perbincangan di
antara kami." Umar berkata lagi: "Tampaknya, kalian berdua
sudah menjadi penganut ash-Shabiah (sebutan terhadap pengikut
Islam)."
Iparnya berkata, "Wahai Umar! Bagaimana pendapatmu
jika kebenaran itu berada pada selain agamamu?" Mendengar itu,
Umar melompat ke arah iparnya itu lalu menginjak-injaknya dengan
keras. Lantas saudara perempuannya datang dan membantu suaminya
menjauh darinya, namun dia justru ditampar oleh Umar, sehingga darah
mengalir dari wajahnya (dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa dia
memukulnya, sehingga terluka memar).
Saudaranya berkata dalam keadaan
marah, "Wahai Umar ! Jika kebenaran ada pada selain agamamu,
maka bersaksilah bahwa tiada Tuhan (Yang berhak disembah) selain
Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasulullah."
Ketika Umar merasa
putus asa dan menyaksikan kondisi saudaranya yang berdarah, Umar
menyesal dan merasa iba, lalu berkata, "Berikan yang ada di tangan
kalian ini kepadaku dan bacakan untukku!" Saudaranya itu berkata,
"Sesungguhnya engkau itu kotor, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya
melainkan orang-orang yang suci; oleh karena itu, berdiri dan mandilah!"
Kemudian Umar berdiri dan mandi, lalu mengambil kitab itu dan membaca:
Bismilillahirrahmanirrahmin (Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang). Umar berseloroh, "Sungguh nama-nama yang baik dan
suci."
Ketika Umar melanjutkan membaca Surah Thaha hingga sampai pada ayat 14:
إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ
"Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku dan
dirikanlah sholat untuk mengingstku." (QS Thaha: 14)
Umar berkata: "Alangkah indah dan mulianya kalam ini! Kalau begitu,
tolong bawa aku kepada Muhammad !" Saat Khabbab mendengar ucapan Umar,
dia pun keluar dari persembunyiannya sembari berkata, "Wahai Umar,
bergembiralah karena sesungguhnya aku berharap engkaulah yang dimaksud
dalam doa Rasulullah pada malam Kamis: "Ya Allah, kokohkanlah Islam ini
dengan salah satu Al-Khaththab atau Abu Jahal bin Hisyam."
Waktu itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang berada di rumah.
Umar mengambil pedangnya dan menuju rumah Nabi, kemudian mengetuk
pintunya. Salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang
terhunus kemudian mengabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka
berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, "Ada apa kalian?"
Mereka menjawab, "Umar datang!" Hamzah berkata, "Bukalah pintunya. Kalau
dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau
menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya."
Kemudian Rasulullah menemui Umar dan berkata kepadanya, "Ya Allah, ini
adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin
Khattab." Dan dalam riwayat lain, "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan
Umar."
Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang
berada di rumah Nabi langsung bertakbir. Menurut riwayat, Umar adalah
orang ke-40 yang memeluk Islam. Abdullah bin Mas'ud berkata: "Kami
senantiasa berada dalam kejayaan sejak Umar bin Khattab masuk Islam."
Demikian kisah Surat Thaha dan Umar Bin Khattab yang mendapat hidayah
Islam. Ketika menjabat khalifah kedua, Umar dikenal sebagai pemimpin
adil dan bijaksana. Di tangannya, Islam berkembang hingga ke luar
jazirah Arab seperti Mesir, Suriah. Persia, dan Irak. Beliau dimakamkan
di samping makam mulia Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam di
Masjid Nabawi Madinah.
Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada
Minggu, 01 Agustus 2021 - 05:00 WIB oleh Rusman H Siregar dengan judul
"Kisah Surat Thaha dan Umar Bin Khattab yang Mengagumkan | Halaman 2".
Untuk selengkapnya kunjungi:
https://kalam.sindonews.com/read/498212/70/kisah-surat-thaha-dan-umar-bin-khattab-yang-mengagumkan-1627747675/13
Untuk membaca berita lebih mudah, nyaman, dan tanpa banyak iklan, silahkan download aplikasi SINDOnews.
- Android: https://sin.do/u/android
- iOS: https://sin.do/u/ios
Ketika Umar merasa putus asa dan menyaksikan kondisi saudaranya yang berdarah, Umar menyesal dan merasa iba, lalu berkata, "Berikan yang ada di tangan kalian ini kepadaku dan bacakan untukku!" Saudaranya itu berkata, "Sesungguhnya engkau itu kotor, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya melainkan orang-orang yang suci; oleh karena itu, berdiri dan mandilah!"
Kemudian Umar berdiri dan mandi, lalu mengambil kitab itu dan membaca: Bismilillahirrahmanirrahmin (Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang). Umar berseloroh, "Sungguh nama-nama yang baik dan suci." Ketika Umar melanjutkan membaca Surah Thaha hingga sampai pada ayat 14:
إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ
"Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingstku." (QS Thaha: 14)
Umar berkata: "Alangkah indah dan mulianya kalam ini! Kalau begitu, tolong bawa aku kepada Muhammad !" Saat Khabbab mendengar ucapan Umar, dia pun keluar dari persembunyiannya sembari berkata, "Wahai Umar, bergembiralah karena sesungguhnya aku berharap engkaulah yang dimaksud dalam doa Rasulullah pada malam Kamis: "Ya Allah, kokohkanlah Islam ini dengan salah satu Al-Khaththab atau Abu Jahal bin Hisyam."
Waktu itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang berada di rumah. Umar mengambil pedangnya dan menuju rumah Nabi, kemudian mengetuk pintunya. Salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus kemudian mengabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, "Ada apa kalian?"
Mereka menjawab, "Umar datang!" Hamzah berkata, "Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya."
Kemudian Rasulullah menemui Umar dan berkata kepadanya, "Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab." Dan dalam riwayat lain, "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar."
Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah Nabi langsung bertakbir. Menurut riwayat, Umar adalah orang ke-40 yang memeluk Islam. Abdullah bin Mas'ud berkata: "Kami senantiasa berada dalam kejayaan sejak Umar bin Khattab masuk Islam."
Demikian kisah Surat Thaha dan Umar Bin Khattab yang mendapat hidayah Islam. Ketika menjabat khalifah kedua, Umar dikenal sebagai pemimpin adil dan bijaksana. Di tangannya, Islam berkembang hingga ke luar jazirah Arab seperti Mesir, Suriah. Persia, dan Irak. Beliau dimakamkan di samping makam mulia Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam di Masjid Nabawi Madinah.
Ketika Umar merasa
putus asa dan menyaksikan kondisi saudaranya yang berdarah, Umar
menyesal dan merasa iba, lalu berkata, "Berikan yang ada di tangan
kalian ini kepadaku dan bacakan untukku!" Saudaranya itu berkata,
"Sesungguhnya engkau itu kotor, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya
melainkan orang-orang yang suci; oleh karena itu, berdiri dan mandilah!"
Kemudian Umar berdiri dan mandi, lalu mengambil kitab itu dan membaca:
Bismilillahirrahmanirrahmin (Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang). Umar berseloroh, "Sungguh nama-nama yang baik dan
suci."
Ketika Umar melanjutkan membaca Surah Thaha hingga sampai pada ayat 14:
إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ
"Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku dan
dirikanlah sholat untuk mengingstku." (QS Thaha: 14)
Umar berkata: "Alangkah indah dan mulianya kalam ini! Kalau begitu,
tolong bawa aku kepada Muhammad !" Saat Khabbab mendengar ucapan Umar,
dia pun keluar dari persembunyiannya sembari berkata, "Wahai Umar,
bergembiralah karena sesungguhnya aku berharap engkaulah yang dimaksud
dalam doa Rasulullah pada malam Kamis: "Ya Allah, kokohkanlah Islam ini
dengan salah satu Al-Khaththab atau Abu Jahal bin Hisyam."
Waktu itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang berada di rumah.
Umar mengambil pedangnya dan menuju rumah Nabi, kemudian mengetuk
pintunya. Salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang
terhunus kemudian mengabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka
berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, "Ada apa kalian?"
Mereka menjawab, "Umar datang!" Hamzah berkata, "Bukalah pintunya. Kalau
dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau
menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya."
Kemudian Rasulullah menemui Umar dan berkata kepadanya, "Ya Allah, ini
adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin
Khattab." Dan dalam riwayat lain, "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan
Umar."
Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang
berada di rumah Nabi langsung bertakbir. Menurut riwayat, Umar adalah
orang ke-40 yang memeluk Islam. Abdullah bin Mas'ud berkata: "Kami
senantiasa berada dalam kejayaan sejak Umar bin Khattab masuk Islam."
Demikian kisah Surat Thaha dan Umar Bin Khattab yang mendapat hidayah
Islam. Ketika menjabat khalifah kedua, Umar dikenal sebagai pemimpin
adil dan bijaksana. Di tangannya, Islam berkembang hingga ke luar
jazirah Arab seperti Mesir, Suriah. Persia, dan Irak. Beliau dimakamkan
di samping makam mulia Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam di
Masjid Nabawi Madinah.
Artikel ini telah diterbitkan di halaman
SINDOnews.com pada Minggu, 01 Agustus 2021 - 05:00 WIB oleh Rusman H
Siregar dengan judul "Kisah Surat Thaha dan Umar Bin Khattab yang
Mengagumkan | Halaman 2". Untuk selengkapnya kunjungi:
https://kalam.sindonews.com/read/498212/70/kisah-surat-thaha-dan-umar-bin-khattab-yang-mengagumkan-1627747675/13
Untuk membaca berita lebih mudah, nyaman, dan tanpa banyak iklan, silahkan download aplikasi SINDOnews.
- Android:
https://sin.do/u/android- iOS:
https://sin.do/u/iosKisah Surat Thaha dan
Umar Bin Khattab yang Mengagumkan
Rusman H Siregar
Rusman H Siregar
Minggu, 01 Agustus 2021 - 05:00 WIB
views: 44.311
Kisah Surat Thaha dan...
Ilustrasi kesederhanaan Umar Bin Khattab radhiyallahu anhu saat menjabat
Amirul Mukminin. Foto/dok tangkapan layar Film Omar
Kisah Surat Thaha dan Umar Bin Khattab tak pernah bosan untuk diulas
mengingat hikmah berharga yang terkandung di dalamnya. Diceritakan,
Amirul Mukminin yang menjabat khalifah kedua ini memeluk Islam setelah
membaca Surat Thaha.
Khalifah Umar memeluk Islam pada bulan Dzulhijjah Tahun ke-6 dari
kenabian, yaitu tiga hari setelah Sayyidina Hamzah memeluk Islam.
Keislaman Umar juga tidak lepas dari doa Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam sebagaimana diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dari Ibnu Umar dan
juga Hadis Ath-Thabrani dari Ibnu Mas'ud dan Anas bahwa Nabi bersabda:
"Ya Allah, kokohkanlah Islam ini dengan salah seorang dari dua orang
yang paling Engkau cintai, Umar bin Khaththab atau Abu Jahal bin
Hisyam."
Baca Juga: Kisah Mengharukan Umar Bin Khattab Masuk Islam
Qadarullah, Allah menakdirkan Umar mendapat cahaya Islam, bukan Abu
Jahal. Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal dengan watak keras dan
kepribadian temperamental, namun memiliki harga diri yang tinggi. Beliau
memiliki permusuhan kuat terhadap Islam. Banyak kaum muslimin merasakan
beragam penganiayaan yang dilakukannya.
Kisah Umar Masuk Islam
Dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah, suatu malam Umar datang ke Masjidil
Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan sholat
Rasulullah SAW. Kala itu Rasulullah membaca Surat Al-Haqqah. Umar kagum
dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri. "Demi
Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy."
Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan
bahwa Al-Qur'an bukan syair). Lantas Umar berkata, "Kalau begitu
berarti dia itu dukun." Kemudian beliau mendengar bacaan Rasulullah ayat
42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur'an bukanlah perkataan dukun),
akhirnya Umar berkata, "Telah terbetik lslam di dalam hatiku." Akan
tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap
agama nenek moyang, Umar tetap saja memusuhi Islam.
Suatu hari, Umar berniat membunuh Rasulullah SAW. Umar berjalan sambil
menghunus pedangnya. Dalam perjalanan, Umar bertemu dengan Nu'aim bin
Abdullah An-Nahham Al-Adawi (dalam riwayat lain disebutkan, seseorang
dari suku Bani Zahrah atau seseorang dari suku Bani Makhzum). Laki-laki
itu berkata, "Hendak ke mana engkau wahai Umar?"
Umar menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad." Orang itu berkata lagi,
"Kalau Muhammad engkau bunuh, bagaimana engkau selamat dari kejaran Bani
Hasyim dan Bani Zahrah?"
Umar menjawab: "Menurutku, sekarang ini engkau sudah menjadi penganut
As-Shabiah (sebutan terhadap pengikut agama Islam) dan keluar dari
agamamu". Orang itu berkata kepadanya, "Maukah aku tunjukkan padamu yang
lebih mengagetkanmu lagi, wahai Umar? Sesungguhnya saudara (perempuan)
dan iparmu juga telah menjadi penganut As-Shabiah dan meninggalkan agama
mereka berdua."
Mendengar itu, Umar langsung bergegas mendatangi saudara perempuannya
yang saat itu sedang belajar Qur'an (Surat Thaha) kepada Khabab bin
Al-Arat. Umar mendapati Khabbab bin Al-Aratt membawa lembaran Al-Qur'an
bertuliskan "Thaha".
Melihat Umar datang, spontan Khabbab menyelinap ke bagian belakang
rumah, sedangkan saudara perempuan Umar menutupi lembaran Al-Qur'an
tersebut. "Apa gerangan suara bisik-bisik yang aku dengar dari kalian?"
kata Umar.
Kemudian saudara perempuan Umar dan suaminya berkata, "Kami tidak sedang
membicarakan apa-apa, hanya sekadar perbincangan di antara kami." Umar
berkata lagi: "Tampaknya, kalian berdua sudah menjadi penganut
ash-Shabiah (sebutan terhadap pengikut Islam)."
Iparnya berkata, "Wahai Umar! Bagaimana pendapatmu jika kebenaran itu
berada pada selain agamamu?" Mendengar itu, Umar melompat ke arah
iparnya itu lalu menginjak-injaknya dengan keras. Lantas saudara
perempuannya datang dan membantu suaminya menjauh darinya, namun dia
justru ditampar oleh Umar, sehingga darah mengalir dari wajahnya (dalam
riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa dia memukulnya, sehingga terluka
memar).
Saudaranya berkata dalam keadaan marah, "Wahai Umar ! Jika kebenaran ada
pada selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada Tuhan (Yang berhak
disembah) selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah
Rasulullah."
Artikel ini telah diterbitkan di halaman
SINDOnews.com pada Minggu, 01 Agustus 2021 - 05:00 WIB oleh Rusman H
Siregar dengan judul "Kisah Surat Thaha dan Umar Bin Khattab yang
Mengagumkan". Untuk selengkapnya kunjungi:
https://kalam.sindonews.com/read/498212/70/kisah-surat-thaha-dan-umar-bin-khattab-yang-mengagumkan-1627747675
Untuk membaca berita lebih mudah, nyaman, dan tanpa banyak iklan, silahkan download aplikasi SINDOnews.
- Android:
https://sin.do/u/android- iOS:
https://sin.do/u/iosKisah Surat Thaha dan
Umar Bin Khattab yang Mengagumkan
Rusman H Siregar
Rusman H Siregar
Minggu, 01 Agustus 2021 - 05:00 WIB
views: 44.311
Kisah Surat Thaha dan...
Ilustrasi kesederhanaan Umar Bin Khattab radhiyallahu anhu saat menjabat
Amirul Mukminin. Foto/dok tangkapan layar Film Omar
Kisah Surat Thaha dan Umar Bin Khattab tak pernah bosan untuk diulas
mengingat hikmah berharga yang terkandung di dalamnya. Diceritakan,
Amirul Mukminin yang menjabat khalifah kedua ini memeluk Islam setelah
membaca Surat Thaha.
Khalifah Umar memeluk Islam pada bulan Dzulhijjah Tahun ke-6 dari
kenabian, yaitu tiga hari setelah Sayyidina Hamzah memeluk Islam.
Keislaman Umar juga tidak lepas dari doa Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam sebagaimana diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dari Ibnu Umar dan
juga Hadis Ath-Thabrani dari Ibnu Mas'ud dan Anas bahwa Nabi bersabda:
"Ya Allah, kokohkanlah Islam ini dengan salah seorang dari dua orang
yang paling Engkau cintai, Umar bin Khaththab atau Abu Jahal bin
Hisyam."
Baca Juga: Kisah Mengharukan Umar Bin Khattab Masuk Islam
Qadarullah, Allah menakdirkan Umar mendapat cahaya Islam, bukan Abu
Jahal. Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal dengan watak keras dan
kepribadian temperamental, namun memiliki harga diri yang tinggi. Beliau
memiliki permusuhan kuat terhadap Islam. Banyak kaum muslimin merasakan
beragam penganiayaan yang dilakukannya.
Kisah Umar Masuk Islam
Dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah, suatu malam Umar datang ke Masjidil
Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan sholat
Rasulullah SAW. Kala itu Rasulullah membaca Surat Al-Haqqah. Umar kagum
dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri. "Demi
Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy."
Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan
bahwa Al-Qur'an bukan syair). Lantas Umar berkata, "Kalau begitu
berarti dia itu dukun." Kemudian beliau mendengar bacaan Rasulullah ayat
42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur'an bukanlah perkataan dukun),
akhirnya Umar berkata, "Telah terbetik lslam di dalam hatiku." Akan
tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap
agama nenek moyang, Umar tetap saja memusuhi Islam.
Suatu hari, Umar berniat membunuh Rasulullah SAW. Umar berjalan sambil
menghunus pedangnya. Dalam perjalanan, Umar bertemu dengan Nu'aim bin
Abdullah An-Nahham Al-Adawi (dalam riwayat lain disebutkan, seseorang
dari suku Bani Zahrah atau seseorang dari suku Bani Makhzum). Laki-laki
itu berkata, "Hendak ke mana engkau wahai Umar?"
Umar menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad." Orang itu berkata lagi,
"Kalau Muhammad engkau bunuh, bagaimana engkau selamat dari kejaran Bani
Hasyim dan Bani Zahrah?"
Umar menjawab: "Menurutku, sekarang ini engkau sudah menjadi penganut
As-Shabiah (sebutan terhadap pengikut agama Islam) dan keluar dari
agamamu". Orang itu berkata kepadanya, "Maukah aku tunjukkan padamu yang
lebih mengagetkanmu lagi, wahai Umar? Sesungguhnya saudara (perempuan)
dan iparmu juga telah menjadi penganut As-Shabiah dan meninggalkan agama
mereka berdua."
Mendengar itu, Umar langsung bergegas mendatangi saudara perempuannya
yang saat itu sedang belajar Qur'an (Surat Thaha) kepada Khabab bin
Al-Arat. Umar mendapati Khabbab bin Al-Aratt membawa lembaran Al-Qur'an
bertuliskan "Thaha".
Melihat Umar datang, spontan Khabbab menyelinap ke bagian belakang
rumah, sedangkan saudara perempuan Umar menutupi lembaran Al-Qur'an
tersebut. "Apa gerangan suara bisik-bisik yang aku dengar dari kalian?"
kata Umar.
Kemudian saudara perempuan Umar dan suaminya berkata, "Kami tidak sedang
membicarakan apa-apa, hanya sekadar perbincangan di antara kami." Umar
berkata lagi: "Tampaknya, kalian berdua sudah menjadi penganut
ash-Shabiah (sebutan terhadap pengikut Islam)."
Iparnya berkata, "Wahai Umar! Bagaimana pendapatmu jika kebenaran itu
berada pada selain agamamu?" Mendengar itu, Umar melompat ke arah
iparnya itu lalu menginjak-injaknya dengan keras. Lantas saudara
perempuannya datang dan membantu suaminya menjauh darinya, namun dia
justru ditampar oleh Umar, sehingga darah mengalir dari wajahnya (dalam
riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa dia memukulnya, sehingga terluka
memar).
Saudaranya berkata dalam keadaan marah, "Wahai Umar ! Jika kebenaran ada
pada selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada Tuhan (Yang berhak
disembah) selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah
Rasulullah."
Artikel ini telah diterbitkan di halaman
SINDOnews.com pada Minggu, 01 Agustus 2021 - 05:00 WIB oleh Rusman H
Siregar dengan judul "Kisah Surat Thaha dan Umar Bin Khattab yang
Mengagumkan". Untuk selengkapnya kunjungi:
https://kalam.sindonews.com/read/498212/70/kisah-surat-thaha-dan-umar-bin-khattab-yang-mengagumkan-1627747675
Untuk membaca berita lebih mudah, nyaman, dan tanpa banyak iklan, silahkan download aplikasi SINDOnews.
- Android:
https://sin.do/u/android- iOS:
https://sin.do/u/iosKisah Surat Thaha dan
Umar Bin Khattab yang Mengagumkan
Rusman H Siregar
Rusman H Siregar
Minggu, 01 Agustus 2021 - 05:00 WIB
views: 44.311
Kisah Surat Thaha dan...
Ilustrasi kesederhanaan Umar Bin Khattab radhiyallahu anhu saat menjabat
Amirul Mukminin. Foto/dok tangkapan layar Film Omar
Kisah Surat Thaha dan Umar Bin Khattab tak pernah bosan untuk diulas
mengingat hikmah berharga yang terkandung di dalamnya. Diceritakan,
Amirul Mukminin yang menjabat khalifah kedua ini memeluk Islam setelah
membaca Surat Thaha.
Khalifah Umar memeluk Islam pada bulan Dzulhijjah Tahun ke-6 dari
kenabian, yaitu tiga hari setelah Sayyidina Hamzah memeluk Islam.
Keislaman Umar juga tidak lepas dari doa Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam sebagaimana diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dari Ibnu Umar dan
juga Hadis Ath-Thabrani dari Ibnu Mas'ud dan Anas bahwa Nabi bersabda:
"Ya Allah, kokohkanlah Islam ini dengan salah seorang dari dua orang
yang paling Engkau cintai, Umar bin Khaththab atau Abu Jahal bin
Hisyam."
Baca Juga: Kisah Mengharukan Umar Bin Khattab Masuk Islam
Qadarullah, Allah menakdirkan Umar mendapat cahaya Islam, bukan Abu
Jahal. Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal dengan watak keras dan
kepribadian temperamental, namun memiliki harga diri yang tinggi. Beliau
memiliki permusuhan kuat terhadap Islam. Banyak kaum muslimin merasakan
beragam penganiayaan yang dilakukannya.
Kisah Umar Masuk Islam
Dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah, suatu malam Umar datang ke Masjidil
Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan sholat
Rasulullah SAW. Kala itu Rasulullah membaca Surat Al-Haqqah. Umar kagum
dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri. "Demi
Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy."
Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan
bahwa Al-Qur'an bukan syair). Lantas Umar berkata, "Kalau begitu
berarti dia itu dukun." Kemudian beliau mendengar bacaan Rasulullah ayat
42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur'an bukanlah perkataan dukun),
akhirnya Umar berkata, "Telah terbetik lslam di dalam hatiku." Akan
tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap
agama nenek moyang, Umar tetap saja memusuhi Islam.
Suatu hari, Umar berniat membunuh Rasulullah SAW. Umar berjalan sambil
menghunus pedangnya. Dalam perjalanan, Umar bertemu dengan Nu'aim bin
Abdullah An-Nahham Al-Adawi (dalam riwayat lain disebutkan, seseorang
dari suku Bani Zahrah atau seseorang dari suku Bani Makhzum). Laki-laki
itu berkata, "Hendak ke mana engkau wahai Umar?"
Umar menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad." Orang itu berkata lagi,
"Kalau Muhammad engkau bunuh, bagaimana engkau selamat dari kejaran Bani
Hasyim dan Bani Zahrah?"
Umar menjawab: "Menurutku, sekarang ini engkau sudah menjadi penganut
As-Shabiah (sebutan terhadap pengikut agama Islam) dan keluar dari
agamamu". Orang itu berkata kepadanya, "Maukah aku tunjukkan padamu yang
lebih mengagetkanmu lagi, wahai Umar? Sesungguhnya saudara (perempuan)
dan iparmu juga telah menjadi penganut As-Shabiah dan meninggalkan agama
mereka berdua."
Mendengar itu, Umar langsung bergegas mendatangi saudara perempuannya
yang saat itu sedang belajar Qur'an (Surat Thaha) kepada Khabab bin
Al-Arat. Umar mendapati Khabbab bin Al-Aratt membawa lembaran Al-Qur'an
bertuliskan "Thaha".
Melihat Umar datang, spontan Khabbab menyelinap ke bagian belakang
rumah, sedangkan saudara perempuan Umar menutupi lembaran Al-Qur'an
tersebut. "Apa gerangan suara bisik-bisik yang aku dengar dari kalian?"
kata Umar.
Kemudian saudara perempuan Umar dan suaminya berkata, "Kami tidak sedang
membicarakan apa-apa, hanya sekadar perbincangan di antara kami." Umar
berkata lagi: "Tampaknya, kalian berdua sudah menjadi penganut
ash-Shabiah (sebutan terhadap pengikut Islam)."
Iparnya berkata, "Wahai Umar! Bagaimana pendapatmu jika kebenaran itu
berada pada selain agamamu?" Mendengar itu, Umar melompat ke arah
iparnya itu lalu menginjak-injaknya dengan keras. Lantas saudara
perempuannya datang dan membantu suaminya menjauh darinya, namun dia
justru ditampar oleh Umar, sehingga darah mengalir dari wajahnya (dalam
riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa dia memukulnya, sehingga terluka
memar).
Saudaranya berkata dalam keadaan marah, "Wahai Umar ! Jika kebenaran ada
pada selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada Tuhan (Yang berhak
disembah) selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah
Rasulullah."
Halaman :
Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com
pada Minggu, 01 Agustus 2021 - 05:00 WIB oleh Rusman H Siregar dengan
judul "Kisah Surat Thaha dan Umar Bin Khattab yang Mengagumkan". Untuk
selengkapnya kunjungi:
https://kalam.sindonews.com/read/498212/70/kisah-surat-thaha-dan-umar-bin-khattab-yang-mengagumkan-1627747675
Untuk membaca berita lebih mudah, nyaman, dan tanpa banyak iklan, silahkan download aplikasi SINDOnews.
- Android:
https://sin.do/u/android- iOS:
https://sin.do/u/ios
Komentar