“Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar suatu hadits dariku kemudian disampaikan sebagaimana yang didengarkan"
صحيح ابن حبان ٦٦: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ يُوسُفَ، قَالَ: حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ دَاوُدَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ.
Shahih Ibnu Hibban 66: Muhammad bin Amru bin Yusuf mengabarkan kepada kami, dia berkata: Nashr bin Ali Al Jahdhami menceritakan kepada kami, dia beikata: Abdullah bin Daud menceritakan kepada kami dari Ali bin Shalih, dari Simak bin Haib, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersada, “Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar suatu hadits dariku kemudian disampaikan sebagaimana yang didengarkan, maka berapa banyak orang yang disampaikan (hadits) lebih mengerti dari pada orang yang mendengar' 5:12
صحيح ابن حبان ٦٩: أَخْبَرَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعِجْلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُوسَى، عَنْ إِسْرَائِيلَ، عَنْ سِمَاكٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا،
فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ.
Shahih Ibnu Hibban 69: Ibnu Khuzaimah mengabarkan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Utsman Al Ijliy menceritakan kepada kami, dia berkata: Ubaidillah bin Musa menceritakan kepada kami dari Isra‘il, dari Simak, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, dari ayahnya, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; “Semoga Allah mencerahkan 'wajah orang yang mendengar suatu haditsku lalu disampaikan sebagaimana didengar, maka berapa banyak orang yang disampaikan (hadits) lebih mengerti dari orang yang mendengar.” 1:2
مسند الشافعي ١١٩٥: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَحَفِظَهَا وَوَعَاهَا وَأَدَّاهَا، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ، وَالنَّصِيحَةُ لِلْمُسْلِمِينَ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ، فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ "
Musnad Syafi'i 1195: Sufyan bin Uyainah mengabarkan kepada kami dari Abdul Mulk bin Umair, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Mas'ud, dan ayahnya bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Semoga Allah mencerahkan wajah seorang hamba yang telah mendengar sabdaku lalu ia menghafal dan memeliharanya serta menyampaikannya seperti apa yang ia dengar, karena ada kalanya orang yang hafal suatu pengetahuan tidak mengerti (pengetahuan tersebut) dan adakalanya orang yang hafal suatu pengetahuan menyampaikannya kepada orang lain yang lebih mengerti darinya. Ada tiga hal yang hati seorang muslim tidak boleh berkhianat bersamanya, yaitu: ikhlas dalam beramal karena Allah, bersikap ikhlas terhadap kaum muslim, dan menetapi jamaah mereka, karena sesungguhnya doa mereka selalu meliputi dari belakangnya.”432
“Barang
siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah
akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Rasulullah
juga pernah bersabda, “Barang siapa yang diinginkan kebaikan oleh
Allah, maka Allah akan pahamkan ia dalam masalah agama.” (HR. Al
Bukhari dan Muslim). Syekh Bin Baz dalam fatwanya menuturkan, bahwa
mempelajari ilmu agama merupakan bentuk mengikuti tuntunan Al Qur’an
dan As Sunnah (Hadis). “Dan mempelajari As Sunnah merupakan tanda
bahwa Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba. Sebagaimana
mempelajari Al Qur’an juga demikian.” (Fatawa Nurun ‘alad
Darb).

Komentar