للَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِن الشَّكِّ وَالشِرْكِ والشِّقَاقِ والنِّفَاقِ وسُوءِ الأَخْلاَقِ وَسُوءِ المَنْظَرِ وَالمُنْقَلِبِ فِي المَالِ والأَهْلِ والوَلَدِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْألُكَ رِضَاكَ والجَنَّةَ وأَعُوذُبِكَ مِن سَخَطِكَ والنَّارِ وَاالهَمِّ إِنِّي أَعُوذُبِكَ مِنْ فِتْنَةِ القُبُرِ وأَعُوذُ بِكَ مِن فِتْنَةِ المَحْيَا والمَمَاتِ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keraguan, syirik, percekcokan, kemunafikan, buruk budi pekerti, penampilan, dan kepulangan yang jelek dalam hubungan dengan harta benda, keluarga dan anak-anak.
Engkau adalah Pengatur dan Pemiliknya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu', jiwa yang tidak merasa puas, ilmu yang tidak bermanfaat, dan doa yang tidak diijabahi)."
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ، اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.
“Ya Allâh, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, dari kepikunan dan azab kubur. Ya Allâh, berilah jiwaku ketakwaannya dan sucikanlah ia. Engkau sebaik-baik Dzat yang menyucikannya, Engkau pelindung dan penolongnya.” (HR Muslim, no. 2722).[1]
Sifat malas (terutama dalam beribadah) selalu identik dengan orang-orang yang Allâh ﷻ berikan kemurkaan. Di antara yang Allâh ﷻ sifati dengan kemalasan adalah orang-orang munafik. Allâh ﷻ berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allâh, dan Allâh akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allâh kecuali sedikit sekali.” (QS An-Nisā’ [4]: 142).
Allâh ﷻ juga mensifati orang-orang kafir dengan rasa malas,
وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ
“Dan tidak ada yang menghalangi sedekah mereka diterima melainkan karena mereka kafir kepada Allâh dan Rasul-Nya, dan mereka tidak melaksanakan salat kecuali dengan malas, dan tidak pula menafkahkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan.” (QS At-Taubah [9]: 54).
Orang-orang malas selalu mengikuti dan menuruti hawa nafsunya. Dari Abu Ya’la Syaddad bin Ausz, dari Nabi ﷺ bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ.
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang menuruti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allâh.” (HR Tirmidzi, no. 2459).[2]
Rasûlullâh ﷺ bersabda:
اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, meminta tolonglah kepada Allâh, dan jangan menjadi lemah (atas hal itu).” (HR Muslim, no. 2664).[5]
Imam Ibn al‑Qayyim dalam Madarijus-Salikin,
اَلْحَرَكَةُ أَصْلُ كُلِّ إِرَادَةٍ، وَالْعَزْمُ مَبْدَأُ كُلِّ حَرَكَةٍ.
“Gerakan adalah asal seluruh impian dan semangat itu ada pada permulaan seluruh gerakan.”[6]
Imam asy-Syafi`i v berkata:
رَأَيْتُ وُقُوفَ الْمَاءِ يُفْسِدُهُ، إِنْ سَالَ طَابَ، وَإِنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبْ.
“Aku melihat bahwa air yang diam akan rusak. Jika ia mengalir, maka ia menjadi baik; tetapi jika ia tidak mengalir, maka ia tidak menjadi baik.[7]

Komentar